Tampilkan postingan dengan label saga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

voice


Hiroki menepuk-nepuk roknya mengikuti irama lagu yang mengalun dari ipod nya sambil mengikuti Hiroto menuju ruang music di rumah Amano bersaudara. Rumah ini tampak cukup terawat mengingat hanya ada Tora, Shou dan adik mereka, Akai di rumah ini sejak kedua orang tua mereka menghilang dua tahun yang lalu.
“Kai, kau ikut latihan? Tumben…” sapa Hiroki sambil duduk di sebelah Akai.
“Dia sedang dihukum…” jelas Shou sambil menepuk-nepuk mic nya.
“Biarkan aku di kamarku!” kata Akai merajuk sambil menatap kakaknya yang lain, Tora, meminta dukungan. “Aku… mau belajar.”
Shou menggeleng tegas. “Kalau kau dibiarkan lepas sedikit saja dari pandangan, kau pasti kabur dengan si Masahito itu!” kata Shou sambil menyerahkan mic ke Hiroki. “Dan lagipula, sejak kapan kau belajar?” sindir Shou tajam. “Ayo mulai latihannya.”
Hiroki menatap Akai dengan pandangan maaf-ya-aku-tidak-bisa-berbuat-apapun-tapi-semangat-lah sebelum akhirnya perhatiannya teralih ke kertas yang berisi lirik lagu yang mereka mainkan dan… Shou. Dari sekian banyak hal, mungkin hanya Shou lah satu-satunya alasan yang membuatnya cukup bangga dengan suaranya yang sepert pria. Tapi, tak apalah… selama itu bisa membantu Shou.
Hiroki ingat, tiga tahun lalu, ketika dia masih duduk di kelas 2 SMP…
“Ini rumahnya?” tanya Hiroki pada saudara kembarnya, Hiroto, sambil menatap rumah yang cukup besar itu.
Hiroto mengangguk. “Kau yang serahkan,” katanya sambil menyorongkan bungkusan besar berbentuk hati pada Hiroki.
“Kenapa aku?”
“Karena aku malu…”
“Tapi kau pria! Lagipula, untuk apa kau malu pada kohaimu sendiri?”
“Aku takut dia menolakku…”
“Kau kembaranku dan kau hebat, dia pasti suka,” kata Hiroki walaupun dia kurang yakin bukan karena Hiroto jelek atau bagaimana, tapi karena Hiroki bahkan belum pernah bertemu dengan gadis yang sedang menjadi pujaan hati kembarannya sekalipun Hiroto hampir selalu menyebut nama Akai disetiap pembicaraan.
“Tapi…”
“Maju atau aku tinggal pulang!”
“Eeeehhhhh!!!”
“Err… Hiro-senpai? Sedang apa disitu?” sapa seorang gadis dibelakang mereka. Gadis dan pria disebelahnya tampak menenteng banyak belanjaan.
“A… A…” Hiroto tergagap sambil menyikut Hiroki untuk membantunya, tetapi Hiroki terlalu terpana dengan pria disebelah Akai.
“Mabushiii…” gumam Hiroki memberi komentar.
“Ah, ini pasti Hiroki-senpai? Yak an?” tanya Akai sambil menyapa Hiroki. “Ah, iya, Hiro-senpai, ini kakakku… Shou… ayo masuk, lebih baik kalian berdua berdebat di dalam saja daripada disini.”ujar Akai sambil menyeringai.
Hiroki ingat, saat itu juga pertemuan pertamanya dengan Tora, Saga dan Nao. Hingga akhirnya, mereka bisa membentuk band dengan Hiroki sebagai vokalisnya. Tetapi, suara Hiroki yang sangat mirip pria menjadi sumber masalah mereka hingga akhirnya… Shou lah yang ditunjuk menjadi vokalis sekalipun suara Shou nyaris tidak terdengar karena radang tenggorokan yang pernah dia derita sewaktu kecil. Jalan terakhir yang diambil… lip sync.
***
Masahito Byou meniup tengkuk Hiroki yang tengah berdiri di depan pintu kelas sambil menunggu Hiroto kembali dari kantin. Datang bulan membuatnya merasa mudah lelah bahakan untuk sekedar berjalan ke kantin membeli makan siang.
“Bilang pada saudaramu, aku pamit pulang. Kalau ada sensei yang bertanya bilang saja aku sakit,” kata Byou sambil membenarkan letak tasnya.
Hiroki mengangkat sebelah alisnya. “Kau bahkan tampak sangat sehat. Mau kemana kau?”
Byou mengerling misterius. “Sakit cinta dan bukan urusanmu aku mau kemana, tugasmu cukup bilang pesanku ke bapak ketua kelas kita. Oke? Jya neee.”
“Aku bukan babumu!” seru Hiroki sebal sambil menatap punggung Byou yang mulai menjauh.
***
Akai melirik ke jam dinding kamar Byou, perasaan bersalah dan tidak enak mulai berkecamuk di dalam hatinya. Salahkah semua yang dia lakukan ini? Kedua kakaknya mungkin akan mengamuk kalau tau… apa lagi shou-nii.
“Kenapa kau sayang? Ada yang kau pikirkan?” tanya Byou sambil mencium leher Akai dan menggengdongnya ke pangkuan.
Akai menggeleng perlahan.
“Kau tau… aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya,” kata Byou lalau mencium bibir Akai. “Bibirmu lembut…”
Akai tersenyum sambil menjatuhkan kepalanya ke pundah Byou, membiarkan tangan hangat Byou mendekapnya lebih erat.
“Aku ingin kita bisa bersatu…” gumam Byou memejamkan mata. “Mereka tidak berhak melarang cinta kita…”
“Aku tau…”
“Aku sayang kamu…”
“Aku juga…”
“Maukah kau denganku terus?”
“Ya…”gumam Akai sebelum dia merasakan sentuhan dingin menusuk perutnya.
“Kita akan bersatu… dikehidupan setelah ini sayang…”
***
“Hiroki! Ah, aku mencarimu kemana-mana…” kata Shou sambil menghampiri Hiroki dengan wajah sumringah. “Aku butuh waktumu sebentar…”
“Ah, aku pulang dulu kalau gitu,” kata Hiroto sambil mengerling gaje ke arah saudara kembarnya. “Semoga beruntung,” bisik Hiroto sambil tersenyum penuh arti. Paling tidak, bila hubungan Hiroki dengan Shou berhasil, itu cukup untuk menutupi kegagalan Hiroto mendapatkan Akai dulu.
“Kenapa Shou senpai?” tanya Hiroki berusaha keras menghilangkan persaan groginya.
“Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat dan kau harus menyanyikan lagu ini untukku,” kata Shou sambil menyerahkan lirik lagu 4U ke Hiroki.
“A… aku? Buat apa?” tanya Hiroki. Ya Tuhan, jangan bilang dka ingin menyatakan perasaannya padaku.
“Kau akan tahu nanti malam…”
***
Saga menunggu sambil mengawasi apartemen pencakar langit yang terletak di tengah kota tempatnya melihat Akai masuk bersama seorang lelaki. Saga tau, jam segini seharusnya Akai masih berada di sekolah, bukan di tempat seperti ini. Apa yang dia lakukan? Mungkin Tora terlalu sibuk untuk menyambung hidupnya dan kedua adiknya sedangkan Shou mungkin terlalu protektif sejak orantua mereka menghilang. Tapi, itu bukan alasan yang tepat untuk melakukan hal yang menyimpang.
Seragam Wendy’s tempatnya bekerja sambilan mash melekat di badan kurusnya. Kalau bukan karena perasaannya pada Akai, mungkin dia tidak akan repot-repot minginggalkan shiftnya hanya untuk mengintai berjam-jam seperti ini. Baginya, Akai sudah seperti adik perempuannya sendiri apalagi, dia anak satu-satunya. Tapi, perasaannya mungkin bisa salah…
***
“Bersembunyilah disitu, dan bernyanyilah ikutin aba-abaku…” kata Shou sambil menunjuk serumpun perdu di halaman rumah mungil ini.
“Baiklah,” kata Hiroki menurut sambil bertanya-tanya dalam hati, rumah siapakah ini? Tapi, apa pedulinya? Toh, tugansya hanya bernyanyi, tidak lebih. Lagipula, demi Shou…
hoshikuzu minamo ni ukabe
koko de wa nai doko ka e to
kogidasu tsuki no umi
nanbanchi ka wakaranai keredo
omoi, kogareteku…anata e
kimi no tameni ima naniga dekiru?
chiisana hikari datoshitatte
ima boku ga kanjiteiru youna
yasashi sa kimi ni mo agetaiyo
tadayou inochi no hoshi de
deai wa hitsuzen datta
wake nado mitsukaranai
kimi o aisuru kanjou ni wa
yuukyuu no toki koe…anata e
dakishimeta netsu wa samenai mama
hitomi ga kimi o motometeru
kaketa tsuki o tsunagi awaseruyo
kokoro ga hitotsu ni natte yuku
kanashii nara naite
ureshii nara emi wo hitori janai
arigatou…
kimi ga itakara aruite koreta
chiisana hikari dato shitatte
hanaretetemo shinjiteku koto no
tsuyosa o oshiete kureta ne
kanashiikara naite
ureshiikara emi o
onaji michi de zutto kanadete ikou

“Aku sayang kamuuu!!!!!!” teriak Shou.
“Aku juga…” kata Hiroki lirih saking shock dan bahagianya suaranya tiba-tiba menghilang.
“Aku mau kamu jadi milikku!!!”
“Aku….” Hiroki mendongak dan baru tersadar, dia tidak hanya berdua saja dengan Shou, tapi ada satu gadis lagi di depan mereka.
“I love you,” ulang Shou sambil menatap gadis itu mesra.
Hiroki ternganga, dia baru menyadari, betapa bodohnya dia. Kenapa dia bisa mengira Shou menyatakan itu untuknya? Bodoh! Perlahan, Hiroki memilih pergi dari situ tanpa menimbulkan suara.
“Semoga kau bahagia Shou-senpai…” katanya sambil menahan tangis.
***
Tora berjalan mondar-mandir di depan rumahnya dengan gusar. Ekspresinya saat itu benar-benar seperti macan yang siap mengamuk, menerkam siapa saja yang mengganggu. Baru kali ini, dia pulang malam dan mendapati rumahnya masih kosong tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu baik dari Akai ataupun Shou.
“Kemana mereka berdua?” gumam Tora geram sambil mencoba menghubungi kedua adiknya. Tapi hasilnya nihil. Mereka berdua tidak mengangkat telepon dari Tora. Wajar saja Tora was-was, hilangnya kedua orangtuanya menimbulkan trauma yang cukup parah apalagi, kedua adiknya sekarang menjadi tanggung jawabnya penuh.
“Tadaima…” gumam Shou lesu dengan muka sendu sambil membuka gerbang. “Ah, Tora-nii kau belum masuk?!”
“BAKA! KEMANA SAJA KALIAN SEHARIAN INI?!” bentak Tora penuh amarah.
“A… aku…”
“Mana Akai?”
Shou menatap Tora dengan tatapan heran sekaligus takut. “Bukannya dia sudah pulang?”
“PULANG KEMANA? RUMAH INI KOSONG!!!”
Shou menganga lalu menepuk jidatnya. “Mati aku…”
***
“Sudahlah… banyak pria di dunia ini,” kata Hiroto sambil mengulurkan tissue ke Hiroki yang menangis sesunggukan. “Sepertinya Amano bersaudara memang memiliki gen mematahkan hati bagi keluarga kita ya?”
“Jangan samakan aku denganmu Pon!” bentak Hiroki sambil memungut HP nya yang berbunyi.
“Siapa? Kenapa tak kau angkat?”
“Shou senpai, biarkan saja.”
Hiroto menggelengkan kepala sambil berdecak. Lalu merogoh sakunya mengambil HP nya yang berbunyi. “Ah, dia meneleponku juga rupanya…”
“Abaikan saja… ah, kenapa kau angkat pon!” seru Hiroki gemas, merasa saudara kembarnya tidak merasakan perasaan yang sama dengannya.
“Ah? Tidak. Aku tidak tahu. Kenapa? Oh, iya… baiklah…”
“Kenapa?”
“Kau ini… kau tidak mau mengangkat teleponnya, tetapi kau mau tau apa yang dia bicarakan,” ejek Hiroki sambil menghindar dari pukulan Hiroki.
“Aku serius!”
“Dis tanya, apa Akai disini. Dia belum pulang.”
“Akai?”
“Iya… aku tebak, mungkin saat ini dia sedang melarikan diri dengan si Masahito itu. Aku heran, apa sih yang dia lihat dari cowok berandal itu? Oke, dia memang sedikit lebih tampan dariku, giginya lebih rata dariku, dan dia lebih tinggi dariku, lebih kaya, lebih… oh shit! Oke, paling tidak aku lebih baik dan lebih pintar darinya, iya kan?”tanya Hiroto meminta dukungan.
“Bisa jadi…” gumam Hiroki mengambil hp nya. “Halo, aku mungkin tau dimana dia…”
***
Saga mengatur nafas sambil menguatkan tekadnya. Pintu itu tidak terlalu kuat untuk sekedar dibuka paksa dengan satu dua tendangan hasil latihan tae kwon do nya dari kecil. Masalahnya, snaggupkah dia menahan semua masalah yang timbul setelah itu?
Tapi… Saga sudah tidak bisa menahan kesabarannya setelah 10 jam menunggu diluar, apalagi, jam 11 malam adalah waktu yang terlalu larut bagi wanita di dalam apartemen pria tanpa melakukan apapun.
Terlebih lagi… ada sedikit rasa tidak rela…
“Yosh! Ganbatte Saga-kun! HIYAAAAAAA~~~”
BRUAK!!!
***

Bersambung

Sabtu, 16 April 2011

mars and venus fic

pairing : SaKa
genre   : romance

Kai berjongkok di depan batu nisan itu sambil meletakkan sekuntum bunga lily kesukaan Saga. Sakamoto Takashi. pria yang sangat dia cintai.

"Kenapa harus secepat ini?" gumam Kai sambil menahan agar air matanya tidak menetes lagi. dia tahu, Saga akan marah padanya jika tahu dia slemah ini.

Kai merasakan tepukan halus di bahunya. "Pulang?" tanya cowok yang selalu memakai menutup hidungnya itu, Reita. dia yang biasanya selalu usil pada Kai, hari ini menjadi sangat pengertian.

Kai mengangguk lesu. "Saga-chii,, aku pulang dulu ya.. aku akan..selalu..mencintaimu... sampai kapanpun." gumam Kai sambil mencium nisan di depannya.
***
"Hueekk!!!" Reita menjauhkan kotak bento nya. "Aku tidak suka!"

Kai cemberut. dia sudah susah payah memasak makan siang bagi seluruh anggota bandnya untuk menekan pengeluaran, tapi Reita selalu saja seperti ini. dia selalu bertingkah seolah masakan Kai dibubuhi racun.

"Buang saja kalau kau tidak suka!!"rutuk Kai.

"Memang mau aku buang!" kata Reita sambil nyengir.

"Dasar peseeek!!!!!"

"Aku buang ya..." kata Reita sadis, tepat ketika sosok tinggi kurus itu masuk. Saga.

"Ano~ ada makan sisa gak disini? di tempat gw kering kerontang nih..." kata Saga dengan wajah memelas.

"Pas banget. nih... tapi ati-ati ya..." kata Reita menyerahkan kotak bentonya.

"Maksudmu ati-ati???!!" kai ngambek. "Saga-san, kalau nggak mau, nanti aku cariin yang lain.."

Saga tidak menggubris dua makhluk yang tengah bertengkar itu. dia terlalu sibuk dengan urusann perutnya. "Oishiii!!!"

"Ne?"

apa dia bilang? enak? masakannya enak?

"Aku belum pernah makan makanan seenak ini... beli dimana?" tanya Saga meletakkan kotak bento yang langsung kosong dalam sekejap mata.

"Ano~ aku yang masak..." jawab Kai malu-malu.

Saga mengernyitkan alis. "Kalau saja anak Arisu ada yang pintar masak seperti kamu, pasti aku nggak akan sekurus ini..." gurau Saga sambil menepuk bahu Kai. "Yaudah,, makasih ya..."

Kai hanya tersenyum malu sambil menatap punggung Saga yang mulai menjauh....

Saga.... aku janji akan membuatmu menjadi lebih gemuk!

***

Kai menunggu dengan sabar, di pojok ruang latihan Arisu. matanya terpaku pada satu sosok, Saga yang tengah membetot bass nya dengan semangat. terkadang, timbul rasa iri di hati Kai pada bass milik Saga.

senangnya jadi bass milik Saga, yang setiap waktu bisa merasakan jilatan dan ciuman dari pemiliknya yang tampan itu.

"Maaf, udah nunggu..." kata Saga sambil mendekati Kai.

kai mengangguk. "Ini, aku bawakan bento kesukaan Saga-chii...."

Saga tersenyum. sudah sebulan ini, kai selalu datang memberikan dia asupan gizi yang jauh lebih baik dari yang biasa dia peroleh. dan, saga tahu, ini membuat member alice nine yang lain iri. terutama hiroto.

"Kai-chan...mana bagianku??" tanya Tora yang tiba-tiba muncul di belakang Saga sambil memasang raut memelas. "Apa kau pikir hanya Saga saja yang butuh makan?"

Kai hanya tertawa sambil memamerkan lesung pipinya. "Tora-shii... kamu udah cukup menyimpan cadangan lemak..."

"Maksudmu????"

"Ayo kai, kita kabur dari amukan si macan.." kata Saga sambil menarik Kai jauh-jauh sebelum tora menyadari maksud dari kata-kata Kai.
***

Kai menatap sosok di sebelahnya. angin semilir berhembus, sesekali memainkan rambut halus pria itu. menampakkan sebuah sensasi tersendiri yang entah mengapa membuat jantung Kai serasa berdetak lebih cepat.

"Kai, kamu tahu, kenapa aku mengajakmu kesini?" tanya Saga.

Kai menggeleng. "Melihat bintang, mungkin..."

"Nyaris tepat..." kata Saga sambil tertawa. "Sekarang. berbaringlah, agar kita lebih leluasa melihat langit.."

Saga membaringkan tubuh Kai dengan lembut. mereka terlalu dekat. sampai Kai bisa merasakan hembusan nafas Saga dan bau inii... bau feromon yang sangat kuat.

"Lihatlah titik terang dilangit itu kai..." kata Saga yang sudah berbaring disebelah Kai sambil menunjuk ke atas.. "Itu adalah venus..dan yang merah itu... itu adalah mars.."

"Sugoii..."

"Dulu, mars adalah kekasih Venus. karena suatu hal, akhirnya, mars diusir oleh zeus.. venus tidak berhenti menangisi kepergian mars. dia memohon pada zeus, untuk dipertemukan lagi dengan mars... zeus mengabulkannya dan.. jadilah mereka.."

"Mereka hidup berdua bahagia, selamanya?" tanya Kai teringat ending dongeng-dongeng klassik yang sering ia baca waktu kecil.

Saga menggelengkan kepalanya. "Sayangnya... mereka hany bisa bertemu selama beberapa menit setiap sekian tahun sekali..."

"Oh..."

"Dan malam ini, aku ingin kita menjadi saksi... pertemuan mereka. saksi kesetiaan venus pada mars dan kesetiaan mars pada venus..."

Kai menatap langit, menatap dua titik yang makin berdekatan satu sama lain. indah. dia baru tahu, ternyata, dibalik fenomena alam yang kini mulai dilupakan manusia, menyimpan sebuah cerita yang sangat indah. kesetiaan...

"Kai..."

"Ya?" tanya Kai. wajahnya memerah. dia merakan tangan saga menggenggam erat tangannya.

"Bolehkah aku menjadi Mars bagimu?"

wajah kai semakin memerah. "Ya.. tentu saja, saga-chii..."

saga tersenyum. "Dan.. maukah kau menjadi venus bagiku?"

"Ya... aku akan selalu menjadi venus bagimu. hanya bagimu..."

saga menarik tubuh Kai, hingga mereka berhadap-hadapan. "Berjanjilah padaku, untuk selaluu menungguku bila aku tidak ada..."

"Aku janji..."

"Dan bila aku tidak kembali... aku mohon... jangan lupakan aku..." kata Saga lagi.

"Tentu. aku tidak akan pernah melupakanmu, saga-chii..."

"Janji?" tanya saga sambil mengacungkan kelingkingnya.

"Janji..." jawab kai menautkan kelingkingnya ke kelingking saga.

"Sankyuuu...aku..mencintaimu kai.." kata Saga sambil memeluk tubuh Kai. mereka masih dalam posisi berbaring. saga mengecup bibir lembut kai.

"Aku juga mencintaimu.. sangat..." gumam Kai sebelum membalas kecupan bibir saga. lebih lama.. memasrahkan tubuhnya pada lelaki ini...

kini, mereka berdua bukan hanya menjadi saksi kesetiaan mars dan venus. tapi, mars dan venuslah yang menjadi saksi cinta mereka.
***
kini Saga telah tiada... selama ini dia selalu menyembunyikan penyakitnya. penyakit yang membuatnya tidak akan bisa gemuk walaupun makan sebanyak apapun. penyakit yang mengakhiri hidupnya begitu cepat... meninggalkan kai sendiri.
sudah beberapa kali ini Kai melakukan miss. padahal, mereka baru memulai latihan beberapa menit. tapi, semua maklum. kematian saga rupanya sangat mengguncang jiwa kai.

"Kita... akhiri dulu latihan hari ini..." kata Ruki memutuskan.

"Ne.. tapi kita baru mulai..." Kai protes,

"Kai-kun, kamu perlu istirahat. kami tahu itu... istirahatlah..." kata Aoi dewasa.

"Ta..tapi..."

"Sudahlah..." kata Reita menarik Kai berdiri dari singgasananya. "Aku akan membuatmu lebih bahagia hari ini..."

"Ha?"

"Minna-san!! jya ne!!" kata Reita sambil menculik Kai jauh-jauh.
***''
"Inikah yang kau sebut akan membuatku lebih bahagia?" tanya Kai berdecak ketika Reita membawanya masuk kedalam dapur.

"Buatkan aku bento." pinta Reita.

"Kau bahkan selalu bilang aku tidak bisa memasak!" protes Kai.

"Buatkan aku bento..ayolah..."

"Tidak.." kata kai duduk di kursi makan.

Reita menghela nafas. "Kai, aku bukan bilang kau tidak bisa masak.. tapi aku tidak suka manis. dan masakanmu selalu manis..."

"Masakan cina memang begitu."

"Ayolah..kau selalu bahagia setiap kali memasak... masaklah lagi..."

Kai terdiam. dia sudah memutuskan untuk tidak lagi memasak. masakannya hanya akan dia persembahkan kepada Saga.

"Apa karena aku bukan saga?" tanya Reita menyelidik.

"Diam kau!"

"Aku memang bukan saga yang akan menelan mentah-mentah semua makanan. tapi kai..."

"JANGAN JELEK-JELEKKAN DIA DIHADAPANKU!!!" kata Kai muntab.

"Aku melakukan ini karena AKU MENCINTAIMU!!!!"

kai tertegun. tidak. tidak mungkin seorang reita yang selalu jahat padanya bisa mencintainya. tidak mungkin.

"Aku tidak suka manis, karena aku hanya menyukai dirimu. kau manis, kai. aku sering menggodamu, aku pikir aku bisa melupakanmu dengan cara itu. tapi..aku salah... sejak kehadiran saga... aku..." kata Reita terbata-bata. "Dia sainganku..."

"Kau jahat!" umpat Kai sambil berlinang air mata. "Dan sekarang, aku senang Saga-chii telah tiada? kau senang?!!!"

reita menggeleng. "Aku hanya ingin kau bahagia, kai...mungkin, aku bukanlah saga... tapi... aku akan membuatmu bahagia. aku tidak mau menggantikan posisinya dihatimu, tapi aku ingin kau memberiku sediki saja tempat dihatimu,"

kai menatap pria yang tengah menggenggam tangannya itu. hatinya bimbang. ia mulai goyah.

"Aku tidak akan memaksamu. tapi aku akan selalu menunggu, sampai kau membuka pintu hatimu..." kata Reita serius menatap kai lekat-lekat.

"seperti mars pada venus?" gumam kai tanpa sadar teringat kata-kata saga.

"Apa?" reita tidak paham.

"Tidak apa-apa..." kata Kai melepaskan genggaman tangan Reita lalu bangkit. "Aku akan memasakkan sebuah masakan yang spesial untukmu, Reita-chan..."

reita-chan, maafkan aku. mungkin aku belum bisa membuka hatiku, aku masih belum bisa menyediakan tempat dihatiku. karena..saga masih mendominasi, memenuhi hatiku. dia tidak akan pernah hilang.... dia tidak akan pernah menjdai kenangan di hatiku, tapi dia akan menjadi bagian dari hatiku yang tidak pernah hilang... selamanya...

dan, suatu hari nanti,,,aku akan menagih kesetiaanmu padaku, Reita-chan... suatu hari, ketika hatiku...telah bertambah lapang hingga ada tempat untukmu...

owari

Rabu, 13 April 2011

les privat bareng anak V-kei


genre : ga jelas-pengetahuan *???*
chara: arisu plus diriku
pairing: ga ada kayaknya..

*ini semata-mata buah kestressan-ku kebanyakan belajar buat ujian*

Disuatu hari nan cerah, Tora udah siap stand by di depan pintu apato-nya sambil bawa buku absen. hari ini, dia udah menitahkan buat semua temen-temennya ngajarin akai, adik Tora, buat ujian.

Kai dateng paling dulu *ngebet banget ngajarin gw ni orang*.

Tora : adikku, ini, abang datengin bang kai...

kai : Tor! lo manggil nya gak enak banget sih!! *protes, ga terima dipanggil bangkai*

tora : yowes, bang uke... belajar yang bener ya, nak..*nepuk2 kepala akai*

kai : oke,, jadi.. kita belajar tentang.... nilai oktan *buka2 buku kimia di meja*

akai : oke... *jadi agak semangat ngeliat dua makhluk menyilaukan didepannya*

kai : jadi... umpamain aja, nilai oktan tuh perasaan cinta gw ke lo. trus kandungan jelaga tuh perasaan cinta gw ke reita-chan... semakin tinggi cinta gw ke elo, semakin rendah cinta gw ke reita-chan..soalnya gw udah punya elo. dan, itu berarti, mutu-nya juga makin bagus.

akai : hah?

kai : iya, ka kalo gw udah cinta sama elo, ngapain gw juga cinta ama reita-chan. makanya, lo jadian aja ama gw. ya? ya? ya?

tora : *tendang kai keluar* gw minta elo buat ngajrin adek gw! bukan buat ngerayu!!!!

yang dateng kedua, saga-chii..

saga : *diem*

akai : kok diem? bukannya loe mau ngajarin gw mathe?

saga : udahlah, lo kerjain dulu aja soal yang ada....

akai : oke... *bercumbu dengan kumpulan soal sambil diliatin sama saga-chii*

beberapa menit kemudian...

akai : saga-chii,, gw ga bisa yang ini nih... *nyodorin soal limit trigonometri*

saga : lo ga bisa? *ngeliatin soal dengan serius*

akai : *ngangguk*

saga : loe aja ga bisa! apalagi gw! gw mana ngerti yang beginian... *nyengir gaje*

tora : *ngusir saga* GW KAN BILANG! YANG BEGO KAGA BOLE DATENG!!!

yang dateng ketiga, shou-nyan...

shou : hoi! kai! semangat ya!

akai : shou-nyan~~ mau ngajarin apa nih?

shou : gw pinter di sejarah...

akai : tapi pan gw kaga ada ujian sejarah. adanya mathe, bio, kimia, fisika, indo ama inggris

shou : *mikir* yaudah..klo gitu, gini aja... apa yang paling lo ga bisa?

akai : semua...

shou : *shock* gw ajarin biologi aja dah... apa yang loe ga bisa?

akai : reproduksi! *ngarep, sapa tau diajarin prakteknya ama shou-nyan*

shou : gw terangin terjadinya manusia aja yak...

akai : oke lah...

shou: jadi, dulu, tengah malam gw dan 400juta shou lainnya keluar melalui uretra bareng sama cairan yang dihasilkan kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. ini namanya mani. pas bapak gw main uler-uleran ama emak gw, gw ngeliat ada pintu yang terbuka lebar, kereta yang gw tumpangin masuk kesitu. trus gw keluar.

akai : oh, sejarah waktu lo masih jadi sperma?

shou : ho'oh..lanjut?

akai : ok... *nyimak baik-baik*

shou : nah, di dalem ruangan yang namanya tuba falopii, gw ketemu sama cewek cakep, namanya ovum. gw kawinin dah..lahirlah zigot.

akai :lha..bukannya loe masih sperma? kok bisa?

shou : perumpamaan. lanjut. zigot, ntar membelah terus sampe yang ke 32 namanya morula. nah, morula ntar kalo udah remaja, dia ganti nama panggung, jadi blastoit. sampe sini mudeng?

akai : ho'oh..mendinglah, daripada dua orang sebelumnya...*lirik saga-kai*

shou : gw umpamain, blastoit tuh shou. karena shou bosen didalem situ seminggu, akhirnya dia nginep di rumahnya uterus. disana, tiap hari dia cuma dikasih makan uterin milk. seminggu ga aman, akhirnya, dateng trofoblas dia jadi body guardnya shou dan ngeluarin jurus hormon korionik gonadotropin. dambil dijaga ama benteng. lo pernah liat kungfu shiolin?

akai: pernah..

shou: nah, shou ngerasa ga enak di lindungin terus. jadi, dia berguru sama eksoderm, mesoderm sama endoderm yang biasa jaga gerbang. semua bagian tubuh shou dirombak dan dibentuk sama mereka bertiga. setelah kuat dan sempurna, dengan berbekal mantel plasenta dari blastoit, akhirnya, gerbang itu terbuka lagi. dan..taraa,,,, lahirlah shou-nyan...

akai : ehehehe *nyengir gaje*. yasudlah,,walaupun bingung, tapi, sankyuu ya shou-nyan...

shou: hehe... sipp dah..apa sih yang ngga buat ade ipar gw? *towel2 pipi akai* yoweslah, aku mau praktekin dulu yak ama abng lo.. *ngirim kode2 siap tempur ke tora* belajar yang rajin ya dek...

akai : oke...

tora : ntar gw panggil yang laen. lo belajar sendiri dulu... *peluk shou, siap2 masuk kamar*

akai : he'e...

tora: kalo lo masi ga mudeng, ntar ikut masuk aja... ebih gampang kalo lliat praktiknya langsung... jyaaa~~~ *BLAMM... nutup pintu kamar dengan penuh napsu*

owari..
sangat gaje~muga2 aku gak salah nulis shou ama kai pas ujian besok. amin...